Rabu, 08 April 2009

60 Tahun Bom Hiroshima, Korban Terus Menjerit


Bayangkan seperti apa rasanya jika anda tahu bahwa anak anda bermandikan debu radioaktif. Bagi mereka yang berada di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, bayangan itu selalu menyertai jalan hidup mereka. Ini bukan sejarah bagi mereka. Ini merupakan keprihatinan dari hari kehari.

Keiko Ogura tinggal di pinggiran Hiroshima kecil saat Amerika menjatuhkan bom atom. "Saya tidak mempunyai bekas luka, tapi, saya memang menyimpan mimpi buruk," katanya.

Sebagaimana ribuan orang lain yang selamat dari bom atom, Keiko Ogura berhak mendapatkan pemeriksaan kesehatan oleh Komisi Korban Bom Atom dalam beberapa bulan setelah pemboman.

Setelah perang, Amerika menyediakan perawatan kesehatan bagi mereka yang terkena dampak. Tawaran ini memungkin para ilmuwan mengkaji dampak radiasi radioaktif terhadap manusia. "Beberapa kali mobil datang dan membawa saya ke pusat penelitian, tempat mereka memeriksa saya," tutur Ogura.

"Saya selalu merasakan ketakutan ini. Adakah sesuatu menghinggapi tubuh saya? Ketakutan itu menyangkut hal yang tak terlihat. Saya mengidap anemia ringan. Jadi, saya lalu tanyakan kepada diri saya, apa ini berkaitan dengan bom itu? Dan, kemudian saya renungkan masa depan saya, akankah saya bisa memiliki anak secara wajar."

Ketakutan Keiko Ogura tidaklah luar biasa. Anda bisa mendengar cerita-cerita semacam dari orang lain yang juga terkena hujan radioaktif saat masih anak-anak. Penelitian medisOrang-orang yang terjebak dalam peristiwa-peristiwa mengerikan Agustus 1945, dan anak cucu mereka, dipantau secara lebih seksama daripada orang-orang lain oleh para dokter dan ilmuwan.

"Ini adalah satu-satunya tempat kami bisa meneliti dampak reaksi pada tubuh manusia," kata Dr Saeko Fujiwara, dari Yayasan Penelitian Dampak Radiasi, RERF. "Kami mengkaji hubungan antara tingkat kadar terpaan (exposure) dan tingkat radiasi. Penelitian kami ini merupakan satu-satunya pengkajian epidemiologis besar-besaran yang bisa melakukan ini. Itulah sebabnya kami unik lain daripada yang lain."

Penelitian tersebut membantu ilmuwan menyusun panduan mengenai tingkat terpaan yang aman yang dipergunakan industri nuklir di seluruh dunia, misalnya. Penelitian Hiroshima membantu menentukan batas aman, kata Charles Waldren

Charles Waldren, seorang warga Amerika yang menjadi ilmuwan kepala di lembaga tersebut, yakin bahwa hampir setengah juta pekerja radiasi di Amerika dan sedikitnya sebanyak itu pula orang yang mendapat manfaat di Eropa. "Penelitian kami juga memungkinkan orang tetap bekerja pada tingkat terpaan yang dianggap aman untuk keselamatan umum," katanya.

"Saya rasa taksiran radiasi yang dipergunakan di banyak negara berasal dari data kami," katanya. Namun, pemantauan seksama terhadap warga Hiroshima, mereka yang terkena terpaan radioaktif dari ledakan itu serta anak cucu mereka, ini bukan masalah rasa ingin tahu keilmuan.

Ada kekhawatiran nyata terhadap mereka yang selama selagi usia mereka bertambah lanjut. Usia harapan hidup para hibakusha adalah 72 tahun. Ketika mereka terkena radiasi, mereka mengalami kerusakan pada gen mereka. Semakin dekat mereka dengan pusat ledakan, semakin parah dampak yang mengenai mereka.

Dalam banyak kasus, gen mereka memperbaiki diri. Mungkin bahwa perbaikan itu tidak sempurnan, sehingga mereka mungkin kemudian mengalami kanker pada usia tua.

Perawatan baru perlu segera ditemukan. "Radiasi memicu kerusakan genome," kata Profesor Kenji Kamiya, direktur lembaga penelitian radiasi, biologi dan kedokteran pada Hiroshima University.

"Pada sebagian orang masalah ini tidak pulih benar. Jadi, 60 tahun kemudian mereka mengidap masalah. Risiko tertinggi bagi korban bom atom untuk mengidap kanker ada pada orang-orang termuda yang terkena terpaan radiasi ledakan. Orang-orang itu kini mencapai usia ketika mereka akan lebih rentan mengidap kanker," katanya.

Ilmuwan memang telah menemukan solusinya, tapi lebih banyak penelitian diperlukan. "Kami mencoba mengembangkan teknologi genome baru, dan metode baru untuk diagnosis dan perawatan," kata Profesor Kamiya. "Kedokteran re-generatif menawarkan kemungkinan untuk memperbaiki kerusakan sel."

Jumlah kasus kanker di antara mereka yang selamat dari pemboman akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, dan mungkin mencapai puncal pada tahun 2020-an. "Itulah sebabnya kami harus bergeas mengembangkan perawatan baru untuk para pasien ini," tambanhnya.

Enam puluh setelah bom atom dijatuhkan, ilmu pengetahuan masih bekerja keras untuk menemukan cara mengatasi dampak lanjutannya. Dan, bagi mereka yang selamat seperti Keiko Ogura, itu berarti kecil peluang dalam waktu dekat ini, kegalauannya akan sirna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar